Wednesday, October 3, 2018

PERLUKAH KEKERASAN (terus) MENGHIASI SEPAKBOLA KITA?


Jakarta,23 September 2018

Dunia persepakbolaan Indonesia kembali berduka. Kali ini, kabar tak sedap itu datang dari salah satu supporter Persija Jakarta, Haringga Sirla. Pemuda asal Cengkareng, Jakarta Barat tersebut harus tewas dikerumunan bobotoh yang memadati Stadion GBLA, Bandung. Hendak mendukung tim kesayangan, justru kemalangan yang menghampiri pemuda yang wafat pada usia 23 tahun ini.

Hanya datang seorang diri dari Jakarta dan siap memberikan dukungan penuh untuk tim kesayangannya, HS nampaknya tidak menyangka kalau dirinya akan menjadi korban selanjutnya atas gengsi nama baik antara The Jak VS Viking. Beredar video dari beberapa warganet yang memperlihatkan bagaimana dirinya dikeroyok dan dijadikan bulan-bulannan oleh para oknum bobotoh hingga dirinya tak berdaya. Tak sampai disitu, oknum-oknum tersebut malah bangga, bringas, dan seakan puas akan apa yang telah mereka lakukan pada almarhum.

Saya sendiri cukup begitu dibuat geram, bagaimana pada video tersebut terjadi aksi kekerasan manusia yang melebih dari perang antar hewan. Bisa kita bayangkan, bagaimana saat dirinya dikejar-kejar oleh oknum Bobotoh, almarhum meminta pertolongan dan perlindungan kepada salah satu pedagang di sekitar GBLA. Bukan rasa aman dan selamat yang didapt, melainkan tarikan, pemukulan dan pengeroyokan habis-habisan yang didapat oleh almarhum HS hingga tewas. Bahkan, saya masih ingat pada video itu dimana almarhum pertama kali harus menerima pukulan besi keras yang mungkin menghujam mukanya, dan dilanjutkan oleh berbagai macam hujanan benda tumpul yang mendarat di tubuhnya hingga berlumuran darah.

Belum usai sampai disitu, Haringga masih tetap menerima hujanan pukulan baik itu berupa bogem mentah, kaki-kaki para oknum, hingga benda-benda tumpul di badannya walau dia sudah tidak bernyawa. Bahkan, ada salah satu teriakan nyanyian kalau tidak salah dalam vidio itu yang menyanyikan "THE JAK *******, ******** SAJA !!!". Dan, puncak dari peristiwa tersebut, yang membuat hati saya begitu geram adalah bagaimana almarhum digotong sambil menyanyikan lagu tersebut. Saya pribadi tidak tahu apa yang ada di pikiran mereka saat itu. Apakah mereka sedang gila? Atau memang sangat begitu sensitif kalau mendengar nama Jak Mania? Yang jelas, apa yang terjadi siang itu bukanlah skor 3-2 kemenangan Persib atas Persija, melaikan pembunuhan 1 The Jak Mania oleh beberapa oknum bobotoh yang menciderai persepakbolaan kita.

Enam tahun sebelumnya tepatnya tahun 2012, kasus serupa pernah terjadi di Jakarta. Korbannya saat itu adalah Rangga, suporter Persib yang nasibnya sama dengan Haringga. Kasus ini berawal saat dimana almarhum menonton bersama salah satu temannya di GBK, dalam laga Persib melawan Persija. Skor akhir saat itu adalah 2-2 untuk kedua tim. Namun, bukan skor akhir yang menjadi fokus utama kita, melainkan bagaimana Rangga dihajar babak belur oleh 6 orang oknum The Jak Mania dan membuang jenazahnya di sekitar hall basket, Senayan.

Ada dua versi yang saya baca dari beberapa portal. Yang pertama, kala itu saat salah satu pemain Persija mencetak gol ke dua, semua pendukung bersorak kegirangan. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Rangga karena tim kesayangannya harus tertinggal 2-1 kala itu. B, salah satu teman Rangga bingung kenapa Rangga tampak begitu sedih di saat yang lain bersorak atas gol Persija kala itu. Nampaknya, itu terdapat pada syal viking yang digunakan oleh almarhum saat dirinya sedang menggaruk kepalanya. Hal itulah yang membuat B dan teman lainnya langsung meneriaki Rangga dan menghajarnya hingga tewas. Yang kedua, itu terjadi dimana saat tim Persib berhasil menyamakan kedudukan, seluruh suporter The Jak Mania menjadi lesu tak bertenaga. Namun Rangga, bersorak kecil atas gol tersebut. Karena aksi selebrasinya inilah, Rangga kedapatan menjadi suporter viking dan menjadi bahan bulan-bulannan oleh oknum The Jak Mania. Pada intinya, oknum The Jak Mania lah yang bersalah atas insiden tersebut.

#STOPKEKERASANSEPAKBOLA
Itulah mungkin sekelumit cerita bagaimana ganasnya persepakbolaan di Indonesia. Tidak hanya Viking vs The Jak saja yang setiap hari selalu hiasi media. Bonek vs Arema, supporter PSS dan PSIM, dan masih banyak lagi kasus keributan antar suporter yang menghiasi media berita Indonesia. Bahkan, yang terakhir saya dengar adalah bagaimana tawuran antara NJ Mania dengan warga di daerah Jakarta Timur, yang menewaskan 2 orang dari suporter NJ Mania.

Hal itu jelaslah menjadi cerminan buruk bagaimana perilaku suporter Indonesia dimata masyarakat. Tak tanggung-tanggung, mereka lakukan apa saja agar suporter lawan mau mengakui kalau dirinya adalah "THE KING OF INDONESIA SUPPORTER". Bahkan, yang namanya nyawa saja, itu bukanlah urusan mereka. Yang terpenting, mereka happy dan mereka only number one.

Hal itulah yang mungkin bisa dibilang saat ini menjadi problematika utama kita, terutama untuk PSSI dan juga operator liga. Bagaimana tidak, dalam beberapa waktu belakangan ini sudah hampir 57 orang menjadi korban akan ganasnya rivalitas persepakbolaan kita. Itupun belum dihitung berapa orang yang harus meregang nyawa akibat kekerasan antar suporter. Dilansir dari media manapun, satu-satunya rivalitas yang cukup mengerikan di Indonesia, hanya terjadi antara 2 saudara, 1 pulau, beda provinsi. Persija Jakarta (The Jak Mania) dengan Persib Bandung (Viking Bobotoh).

Saya pribadi cukup geli sekaligus bingung akan provokasi yang sudah mereka lakukan. Bahkan, tak jarang media sosialpun jadi bahan utama untuk memulai perang antar jari. Dimulai dari gengsi, tantangan untuk away, nyanyian, hingga tulisan atau komentar seperti "ANJING" dan semacamnya, menghiasi bagaimana kelamnya dunia suporter Indonesia.

Pada kesempatan ini, saya sebagai penulis akan mencoba mengulas apa yang menyebabkan terjadinya rivalitas tanpa "BATAS" yang terjadi pada dunia suporter sepak bola ini.

1. SEJARAH
Damai itu pernah ada
(Source : Youtube - Mata Najwa Trans 7)
Pertandingan sepak bola tidak nikmat rasanya bila tidak membahas soal sejarah. Jika kita menilik Sepak Bola Eropa, pastilah sejarah adalah awal mula bagaimana 2 tim berseteru. Sebut saja, duel El Classico antara Real Madrid dan Barcelona yang dipicu akibat politik. Lain lagi halnya duo Manchester yang saat ini adu gengsi, siapa real Manchester sesungguhnya. Der Klasiker antara Dortmund vs Bayern Munchen juga ikut meramaikan oleh para penikmat Bundesliga. Dan, masih banyak lagi cerita yang berkaitan, baik itu dari sisi prestasi, politik, hingga fanatisme suporter.

Di Indonesia sendiri, hal tersebut lumrah. Sebelum pertandingan berlangsung, komentator maupun pengamat sepak bola pasti akan selalu membahas sejarah. Entah itu dari sisi pemain, suporter, stadion, hingga head to head. Semuanya pasti akan membahas sejarah. Namun, satu yang cukup unik bagi saya adalah tentang bagaimana sejarah antara rivalitas The Jak dengan Viking.

Point utama dari rivalitas mereka hanyalah saling ejek. Saya pernah membaca salah satu artikel, dimana awal mula terjadinya rivalitas gila ini berasal dari kuis "SIAPA BERANI" dimana ada saling ejek antar kedua pendukung hingga terjadi adu pukul. Ada juga yang mengatakan, kala Persib menjamu Persija, terjadi gesekan kecil antar pendukung Persija dengan Persib. Namun pada intinya, semua berawal dari keributan dua suporter.

Tapi, yang jadi masalahnya adalah keributan ini berasal dari generasi mereka. Yang tanda kutip, berasal dari generasi Bung Feri, dkk saat masih muda dulu. Dan anehnya, ini menjadi terus menjalar hingga ke generasi sekarang ini.

Tak ayal, jika kedua tim ini bertemu, pasti yang terjadi adalah larangan bertanding karena takut akan terjadi hal yang tidak diinginkan.

2. ATTRIBUT
Benfica Supporter Attribute (Source : Detik.com)
Menonton sepak bola tanpa attribut, ibarat baju tanpa celana. Semua saling melengkapi untuk memeriahkan euforia pertandingan sepak bola itu sendiri. Saya pribadi sebagai penikmat sepak bola cukup senang apabila menonton klub kesayangan saya menggunakan attribut. Di tambah lagi, ketika terjadi gol, pasti attribut itu akan dijadikan sebagai pelampiasan ekspresi kita. Entah itu dicium lambang klubnya, dibuka bajunya hingga diputar-putar di atas, atau syalnya yang mungkin dilempar ke atas.

Masih ingat dipikiran saya, kala itu Dortmund dan Liverpool bersua di semifinal Europa League musim 2015/2016. Saat itu, semua supporter baik Liverpudian maupun Die Borrusen sama-sama membentangkan syal bertuliskan Dortmund-Liverpool. Sama-sama juga mereka menyanyikan lagu "You Never Walk Alone" baik saat kandang maupun tandang. Dan hal itulah, yang membuat mereka dianugerahkan sebagai best suporter oleh FIFA saat malam penganugerahan sepak bola terbaik FIFA.

Bagaimana dengan Indonesia sendiri?

Dalam setiap pertandingan, penulis selalu melihat bagaimana euforia masyarakat Indonesia terhadap kecintaan kepada klub kebanggaannya begitu besar. Saya mungkin ambil contoh klub Persija, karena saya tinggal di Jakarta. Dulu, di setiap sudut kota, sepanjang trotoar, hingga penjual dadakan saat pertandingan, banyak pedagang selalu memamerkan barang dagangaanya. Dimulai dari syal, topi, jersey, dll, semua ada pada kios mereka. Bahkan, baju anak-anak saja ada yang bergambar klub asal dengan pemain besarnya saja, tersedia. Contoh saja, baju dengan lambang Persija dengan foto Bepe dan Ismed, itu juga dijual oleh mereka. Soal harga, cuek aja. Yang penting, mereka happy dan barangpun laris terjual.
Harus Jadi Kisah Nyata dan Fakta (Source: Tribunnews.com)
Tetapi, dari itu semua ada beberapa attribut-attribut fans yang bisa dibilang, inilah kenapa sepakbola kita cukup darurat. Anda bayangkan saja, kalau ada baju yang bertuliskan seperti ini:

"AREMA-THE JAK KITA SAUDARA. ASAL JANGAN VIKING" dengan kata Viking dicoret silang.

Lalu, ada juga baju yang di tuliskan seperti ini:

"ANTI THE JAK MANIA ****" dengan lambang jari telujuk khas Persija, di coret seperti rambu dilarang.

Masih ingat tentang tayangan bagaimana salah satu gol dari pemain Persib, lalu kamera menyorot euforia penonton. Kembali, ada syal dari salah satu suporter yang bertuliskan:

"PERSIJA ********" dan dia pamerkan ke arah kameramen tersebut dengan bangga.

Itu semua terjadi hanya karena attribut. Hanya karena attribut saja, yang namanya keributan dari level mulut hingga adu pukul, terus terjadi.

Contoh Nyata Yang Kita Takutkan
Stop Attribute Provokasi!!!


Mungkin untuk sekarang, saya rasa sudah jarang melihat attribut-attribut tersebut dijual di Jakarta. Kalaupun untuk memakai atau menyimpan, mungkin ada satu dua orang. Tapi, saya kurang tahu akan hal itu.

Tetapi, bagaimana dengan daerah lain? Masih adakah yang menjual? Atau, malah menjamur gak karuan?

Hanya anda yang tahu.

3. CHANT DAN KOREOGRAFI
Heja BVB (Source : Deniz Satar Blog)
Eropa khususnya, selalu menjadi pusat sepakbola dunia terutama dalam hal suporter. Suporter selalu bertugas untuk mendukung klub kebanggaannya dengan cara apapun, terutama dengan chant maupun koreografi. Tujuannya satu, yaitu untuk membangkitkan gairah timnya agar terus menang, menang dan menang. Itulah mengapa selalu dalam media, pers conference hingga statement pemain maupun pelatih selalu mengatakan bahwa suporter adalah pemain ke 12. Dukungan tim tanpa mereka, ibarat nasi goreng tanpa bumbu. Akan terasa hambar.

Saya sendiri menilai. Khususnya, untuk Eropa sendiri ada sekitar mungkin kurang lebih 3 negara yang saya pikir menjadi basis suporter yang tidak hanya mengerikan, namun juga bisa menjadi mimpi buruk bagi lawan. Mereka antara lain adalah Rusia, Jerman dan Italia.

Bagaimana dengan Inggris dengan liganya yang cukup ketat? Bagaimana spanyol dengan El Classiconya dan kuda hitam? Bagaimana pula Portugal dengan suporter Benfica dll? Semua itu saya rasa belum mengalahkan betapa gilanya dukungan mereka terhadap club mereka sendiri. Sehingga, tidak jarang mereka dijuluki Crazy Hooligan oleh saya pribadi karena betapa ngerinya mereka kala mendukung dan bersorak.

Tetapi, jika dilihat club manakah dengan chant terbaik menurut saya. Maka, nama itu akan tersorot kepada tim asal Inggris, kota tepi sungai, peraih 5 gelar UEFA Champions League, runner up Liga Champion 2017/2018 dan musuh terbesar sang setan merah. Ya, Liverpool adalah jawaban atas pertanyaan tersebut. Bagaimana loyalitasnya mereka, dukungan mereka, hingga yang masih teringat kemarin pasca final Liga Champion 2018 adalah bagaimana semua energi, tenaga hingga lagu penyemangat, mereka tebarkan untuk Liverpool. Lagu "You Never Walk Alone" adalah bukti bahwa Liverpuldian akan terus berjalan bersama The Reds, walau terpuruk sekalipun.

Best Supporter In FIFA Award (Source: caughtoffside.com)
Bagaimana dengan koreografi? Klub manakah yang memiliki koreografi mengerikan di eropa? Maka saya bisa jawab, klub itu ada di negara Jerman. Lebih tepatnya adalah pesaing Bayern Munchen. Dia adalah Borrusia Dortmund dengan jersey khasnya yaitu kuning.

Kenapa saya katakan mengerikan? Mengerikan dalam bahasa saya adalah, koreografi tersebut sangat menarik untuk dilihat. Bagaimana mereka bisa membuat 3D koreografi dengan orang menggunakan topi sambil melihat dengan teropong, piala harapan mereka, hingga chant sebagai pelengkap yang membuat saya menilai bahwa Die Borrusen merupakan suporter dengan koreografi paling mengerikan sekaligus menarik. Dan, tak mustahil juga kalo pesaing Dortmund yaitu Bayern Munchen juga ikut membuat koreografi yang tak kalah mengerikannya dengan si kuning. Sehingga mengapa, dominasi Munchen dan Dortmund di Bundesliga patut diperhitungkan.

Beda ceritanya kalau kita bandingkan bagaimana chant antara Liverpool dan koreografi Dortmund dengan klub kita dari Indonesia. Kita bisa lihat bagaimana PSS Sleman dengan chant kreatifnya serta koreografi yang bikin merinding. Persebaya dengan Bonek sampai mati yang terus berteriak Persebaya Jaya sambil membentangkan gambar 3D buaya yang berotot. Persib Bandung dengan pendukungnya yang loyal dari chant, hingga kreatifitas koreografinya yang ditakuti lawan. Dan, semua klub punya ciri khas tersendiri. Itu semua demi satu tujuan.

KEMENANGAN!!!
Super Elja Choreographie (Source: Youtube)
Namun, pernahkah anda mendengar sesekali, terutama dalam stadion saat pertandingan langsung, anda mendengar bukan hanya 1 atau 2 orang, melainkan sekitar 1 tribun menyanyikan lagu rasis? Pernahkah anda melihat banner atau koreografi provokasi, tersiar di TV ketika live? Atau, apakah ada dari tetangga, saudara hingga anak kecil sekitar anda sudah berani memaki klub orang dengan bahasa kasar hingga menulis kata-kata kotor dengan diikuti nama pendukung atau klub lawan? Itulah yang terjadi saat ini, khususnya The Jak dengan Viking dan Bonek dengan Aremania. Terkhusus untuk The Jak dan Viking, dua suporter ini merupakan suporter dengan tensi tinggi. Bahkan, untuk soal lagu ataupun yel-yel, mereka cukup ditakuti. Bukan karena bagus, melainkan isinya yang mengerikan. Coba anda dengar di youtube, ada yel-yel seperti ini:

"VIKING ******, ***** SAJA!!!"

Atau, yang masih hangat seperti:

"HERE YOU DIE!" dengan gambar harimau biru mencekik harimau oren.

Masih Hangat dan Jangan Sampai berlanjut (Source: Deskgram)
Dan coba anda liat, betapa bangganya mereka melakukan hal tersebut.

Apakah berdampak baik? Malahan yang ada, dari generasi atas hingga generasi penerusnya, akan tersimpan rasa permusuhan. Dan parahnya lagi, perang antar suporter bisa terjadi, entah itu terselubung atau terlihat.

That's why FIFA, AFC dan PSSI sangat mengutuk keras akan hal tersebut.

4. SUPORTER & FANATISME
Spartak Moscow Hooligan (Source: si.com)
Sepak bola itu ibarat cinta. Klub dan suporter, bagai hati yang saling melengkapi. Tanpa salah satunya, hidup terasa hampa. Fanatisme, bagaikan bumbu-bumbu yang melengkapi percintaan mereka. Tanpa ada fanatisme, akan terasa hambar dan tak nikmat bagaimana mereka mencintai klub mereka.

Seperti itulah suatu gambaran bagaimana klub, suporter dan fanatisme saling melengkapi. Dalam dunia sepakbola, wajar apabila klub butuh dukungan suporter demia meraih kemenangan. Dan dalam kamus suporter, wajar juga jika fanatisme terhadap suatu klub sudah mendarah daging dari generasi ke generasi. Semua itu bekaitan, semua itu berikatan. Jika kita melihat bagaimana perkembangan sepak bola eropa, maka menarik rasanya bila di ulas sedikti dari mereka.

Singapura, China dan Australia adalah 3 negara yang sering menjadi langganan tour para tim sepak bola Eropa. Sebut saja Arsenal, Chelsea, Barcelona, AS Roma, Dortmund, dsb. Mereka semua sering kali mengunjungi 3 negara tersebut untuk menjalani laga pramusim seperti ICC, Premier League Asia, maupun turnamen kecil lainnya. Bahkan, tidak jarang juga mereka mendapat undangan untuk datang demi menghibur fans mereka di negara tersebut. Indonesia adalah salah satu contoh dari kunjungan mereka dalam tour khusus mereka.

ICC Cup Logo (Source: bolalob.com)
Antusias serta animo luar biasa dari fans fanatik, biasanya membuat mereka rela melakukan apa saja agar bisa menyaksikan langsung tim atau idola mereka bertanding langsung di depan mata mereka. Bahkan, mereka juga rela merogoh kocek lebih dalam agar keinginan mereka bisa terwujud. Tak jarang juga, mereka rela menerobos pengamanan demi foto bareng maupun tanda tangan dari pemain idola mereka.

Indonesia, merupakan basis dengan suporter dan fanatisme terbaik dan terbanyak di dunia. Jika kita melihat sekelas Timnas Indonesia bermain di luar negeri, pasti ada saja sekitar sepuluh, dua puluh, bahkan lebih WNI yang senantiasa mendukung mereka. Tidak hanya sepakbola, melainkan olahraga lainnya pun demikian.

Jika anda penyuka Liga Indonesia, mungkin juga anda pernah saksikan bagaimana semacam Persija, Persib, Semen Padang, Persipura dan klub-klub lainnya, pernah berkancah di tingkat internasional. Contoh yang paling dekat adalah ketika Persija ikut di ajang AFC Cup. Anda mungkin sadar betul bagaimana antusias mereka saat tim tersebut berlaga di kancah internasional. Tidak hanya di stadion saja, melainkan media sosialpun rame akan cuitan dan komentar mereka. Bahkan, website sekelas youtube pun menjadi bukti kalau seandainya klub asal Indonesia yang bermain, maka viewersnya akan lebih banyak dibanding klub-klub lain. Contoh saja Persija saat bertemu JDT, Tampines Rovers, Ho Chi Minh, dan Home United. Anda bisa lihat, berapa viewers yang menyaksikan pertandingan Persija dengan yang lainnya. Anda bandingkan dengan saat mereka bertemu, seperti JDT vs Tampines Rovers maupun Ho Chi Ming. Sungguh sangat jauh dirasa oleh saya.



Kembali pada topik tentang suporter & fanatisme. Untuk Indonesia sendiri, seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, bahwa kita adalah basis dengan fanatisme dan suporter terbaik di dunia.

How about the club?

Klub Indonesia merupakan sumber utama kenapa kita bisa disebut sebagai basis suporter terbaik di dunia. Fanatisme serta antusias masyarakat dalam mencintai klub kebanggaanya adalah faktor utama kenapa beberapa pemain luar negeri ingin sekali bermain di Indonesia. Atmosfer serta dukungan penuh para penonoton jadi faktor utama bagi klub tersebut termotivasi untuk menang. Koreografi yang unik serta chant-chant yang kreatif membuat Indonesia cukup luar biasa untuk fanatisme.

Namun masalahnya, fanatisme yang terjadi di Indonesia sudah seperti terlalu berlebihan. Mereka sudah seperti kelewat batas sehingga menimbulkan prahara yang tidak menguntungkan. Ini bisa dibuktikan tentang chant atau koreografi yang kita sudah bahas sebelumnya. Rata-rata, fanatisme yang ditunjukkan adalah fanatisme yang berbuah negatif.

Kita ambil contoh yang terjadi pada internal Jakarta. Perseteruan antara NJ Mania dengan The Jak Mania memang tidak pernah terhindarkan. Banyak konten-konten youtube yang memperlihatkan perseteruan dua suporter tersebut. Bahkan, yang masih hangat di ingatan saya adalah bagaimana brutalnya suporter NJ Mania saat melihat logo Persija di jalan. Mereka dengan sigap, menyerbu logo tersebut dan mencoretnya dengan gambar yang tidak pantas. Belum lagi soal mendukung tim sendiri, keresahan warga mungkin tercermin apabila mereka menaiki kendaraan namun membahayakan jiwa mereka di jalan. Sehingga, jika terjadi hal yang sudah saya jelaskan sebelumnya soal pencoretan lambang Persija, bisa saja yang bawa kendaraan diantara panik, rem mendadak, hingga klakson gak karuan.
Berita mengerikan NJ Mania (Source: Tribunnews.com)
Pun sama juga dengan Persija. Keamanan berkendara hingga bagaimana respek dengan pengendara lain adalah nilai utama di jalan. Namun, ada aja yang bandel sehingga menimbulkan keresahan masyarakat saat mereka bertemu di jalan. Belum lagi jikalau mereka away ke Jawa Barat, ada saja masalah yang menimpa mereka seperti lemparan batu oleh oknum yang entah siapa yang melakukannya. Hingga, sorotan mereka tertuju tajam pada viking perbatasan. Semua itu terjadi akibat fanatisme berlebihan. Tidak hanya dua suporter itu saja, melainkan masih banyak lagi suporter yang bertindak gila dan anarkis karena fanatisme yang tidak karuan.

Sorotan menyedihkan dari media asing
Kasus tewasnya Haringga Sirilla dan Rangga menjadi bukti bahwa fanatisme suporter Indonesia berada dalam zona merah. Hal ini merupakan cerminan buruk untuk persepakbolaan Indonesia di masa mendatang.

5. "DENDAM"
Jangan sampai ini terjadi (Source: jpnn.com)
Pada bahasan yang ke lima ini, saya jadi teringat saat Persija menjamu Persib di Stadion GBK sekitar musim 2012/2013. Ketika Persib bersiap menuju ke Stadion GBK untuk bertanding, di tengah perjalanan mereka dilempari batu oleh oknum. Lagi-lagi, nama The Jak Mania menjadi kambing hitam kala itu. Saat Persib memutuskan untuk batal bertanding dan kembali ke Bandung, beredar kabar bahwa sweping tengah dilakukan oleh Viking terhadap plat B. Hal ini dikarenakan aksi lempar batu yang membuat geram dari pihak mereka.

Kasus tewas dan terlukanya beberapa suporter juga merupakan salah satu, kenapa dendam jadi alasan permusuhan antar suporter. Jika gerombolan tim A bentrok dengan gerombolan tim B dan ada yang tewas salah satunya, maka salah satu teman dari tim A maupun B ini mengecam dan akan melakukan tindakan sebaliknya agar jadi setimpal. Belum lagi ejekan, makian hingga SARA bahkan attribut provokatif yang membuat benih-benih dendam muncul pada hati mereka. Sehingga tidak heran kalau kasus keributan dan tewasnya suporter terus terulang kembali hingga sekarang.

6. Media Sosial
Instagram Logo (Source: edigitalagency.com)
Pada era modern ini, media sosial (medsos) menjadi alat canggih bagaimana kita menyampaikan informasi dari satu tempat ke tempat lain secara cepat. Berita, pesan hingga informasi apapun semuanya di sampaikan melalui media sosial. Bahkan, untuk sekedar melepas rasa kangen pun bisa melalui media sosial.

Dalam dunia sepak bola, medsos adalah alat penting guna menyampaikan informasi kepada penggemarnya terkait kondisi terakhir timnya. Baik itu berupa live match report, skuad tim yang akan diturunkan, bursa transfer, rumor, hingga daily activity pemain, semuanya mereka sampaikan di situ.

Pernah waktu itu saya mencoba mengikuti informasi jalannya big match antara Liverpool vs Man. City musim 2013/2014. Kala itu Man. City bertandang ke Anfiled  dimana tempat itu adalah markas sang pemuncak klasemen, yaitu Liverpool. Pertandingan besar ini sejatinya tidak tayang di televisi sehingga mewajibkan saya untuk melakukan streaming. Namun, kuota untuk melakukan streaming tidaklah kecil dan membutuhkan sekitar ratusan GB agar streaming lancar tanpa memikirikan kuota. Sehingga akhirnya, saya beralih ke media sosial Twitter, yang saat itu memang sangat musim sekali. Twitter saat itu sangatlah populer dan dapat melakukan sepersekian detik dengan cuitan warganet di dalamnya. Sehingga, update berita saat itu adalah Twitter.

Pada big match tersebut, saya mengikuti bagaimana jalannya pertandingan secara langsung walau hanya sebatas cuitan. Namun, keseruan terjadi jika terdapat statement "GOAL" dan disebutkan menit, pencetak gol hingga skor yang terkini. Hal itu membuat saya cukup senang dan tidak ketinggalan keseruan pertandingan walau hanya sebatas live report.

Akun-akun fanbasepun turut juga meramaikan akun klub yang terverifikasi. Biasanya, akun fanbase ini akan mengikuti kabar terkini dari klub kesayangannya. Yang disampaikan pun sama, tapi bedanya hanya pada bahasa hingga foto-foto kreatif dari follower. Bahkan, info nobar, tour hingga gathering selalu tersedia pada lama medsos mereka.

Indonesia, tidak terkecuali ikut meramaikan akun-akun tersebut, baik yang verified maupun yang fanbase. Tetapi, bila kita bicara medsos Indonesia, itu bagai pisau bermata dua. Disatu sisi bisa positif, disisi lain bisa negatif. Dan lebih bahayanya lagi, rata-rata media sosial Indonesia lebih condong ke arah negatif. Sebut saja hoax dan gambar, video serta caption provokasi. Saya sebagai penikmat media sosial cukup kenyang akan dua hal itu, terutama yang berbau sepak bola. Banyak akun-akun gembel kalau bahasa saya, yang menyebar thread keburukan, kebencian hingga permusuhan seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya.

Chant dan koreografi rasis, tantangan suporter untuk away ke tim rival yang levelnya berdarah, berita pengeroyokan, dan semacamnya merupakan bahan empuk yang sering tersaji di media sosial. Bahkan, postingan buruk berupa permusuhan dan kalimat-kalimat kotor beserta hewan ragunan lainnya, terpampang jelas di media sosial. Dan parahnya lagi, mereka mudah terpancing emosi sehingga dendampun menjadu buah dari akar fitnah para admin media sosial yang tidak bertanggung jawab.
Provokasi Menghancurkan Perdamaian Kita
Jangan biarkan 1 menit anda terbuang hanya karena berdebat

Sikap dan tata bahasa menjadi cerminan anda

Hal itulah yang membuat sering terjadinya permusuhan hingga perang antar suporter yang kadang memakan korban jiwa. Niat pamit untuk mendukung, ketika pulang membawa kabar mendung.

Dengan meninggalnya Haringga akibat pengeroyokan oknum yang tak bertanggung jawab, menjadi cerminan bahwa sepak bola kita jauh dari kata damai. Huru hara hingga perang fisik maupun jari semakin tidak terhidarkan. Kekerasan hingga jatuhnya korban menjadi topik utama tersendiri oleh beberapa media, baik itu daring maupun kabar. Akibatnya, manusia yang tidak terlibat akan hal tersebut justru menjadi korban dan meninggalkan luka pedih bagi dirinya hingga keluarga yang ditinggalkan. Selain itu, klub juga yang akhirnya bertanggung jawab atas sifat anarkis dan brutal sebab ulah suporternya yang bandel. Ujung-ujungnya, denda berupa uang hingga larangan bermain menjadi santapan mereka. Diskualifikasi hingga cabut lisensi merupakan hal yang ditakutkan mereka.

Nota damai, sering kali dijadikan alat untuk jalan keluar. Surat perjanjian hingga tanda tangan dan ikrar, sering mereka gaungkan. Namun, bukannya damai yang terjadi melainkan siklus itu terus terjadi. Ujung-ujungnya, klub lagi yang terus dirugikan.

Tapi mengapa, masih ada saja suporter yang terus seperti itu?

Apakah mereka kurang piknik?

Apakah mereka mau dibilang jagoan?

Atau, karena dendam dan sebagainya???

Lalu, masih perlukah kekerasan (terus) menghiasi sepak bola kita?

0 comments:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger