Thursday, December 20, 2018

CATATAN TIMNAS SENIOR DI AFF (2008-2018) : FROM KING TO NOTHING


AFF Suzuki Cup 2018 telah usai. Kali ini, Vietnam kembali menjadi raja sepak bola Asia Tenggara setelah 10 tahun puasa gelar. Pagelaran turnamen yang menyedot animo seluruh kalangan masyarakat dari bawah sampai atas, terbilang cukup sukses. Ditambah dengan format baru, seluruh negara akhirnya bisa merasakan euforia turnamen yang digelar 2 tahun sekali di kawasan Asia Tenggara.

Indonesia adalah salah satunya yang terkena imbas dari turnamen AFF ini. Antusias dan besar harapan seluruh suporter untuk Timnas Indonesia, menjadi perhatian penting karena tahun ini adalah tahun yang cukup luar biasa untuk sepak bola kita. Bila kita melihat dari berbagai level, pastilah level di bawah senior mendapat apresiasi besar dari seluruh penikmat dan pecinta sepak bola Indonesia. Dimulai dari timnas junior U-16 yang juara AFF U-16 di Sidoarjo dan lolos 8 besar AFC U-16 di Malaysia, timnas U-19 yang berada di peringkat ke-3 AFF U-19 dan lolos 8 besar AFC U-19 di Indonesia, dan timnas U-23 yang bermain cukup heroik dan dramatis di 16 besar Asian Games 2018 walau harus kalah adu penalti dari UAE. Semuanya menjadi prestasi tersendiri untuk sepak bola Indonesia terutama dalam pengembangan pemain muda. 

Prestasi besar level junior ini, tampaknya tidak diikuti dengan baik dikalangan level senior. Melihat bagaimana penampilan timnas senior di ajang AFF tahun ini, bisa dibilang lebih buruk dari tahun sebelum-sebelumnya. Kenapa bisa dibilang seperti itu?  Hal ini disebabkan dari beberapa faktor yang membuat sepak bola Indonesia bagai "pungguk merindukan bulan".

Yang pertama dari sisi kompetisi yang masih berjalan. Dilansir dari Foxsport Asia, Indonesia menjadi satu-satunya negara dengan kompetisi liganya yang masih berjalan. Padahal, negara lain sudah menyelesaikan kompetisi, sudah keluar siapa juaranya, sudah menyusun jadwal liga untuk musim berikutnya. Yang kedua, penunjukkan pelatih. Selesainya Luis Milla di Asian Games ternyata menjadi kabar buruk untuk timnas senior. Bagaimana tidak, kosongnya kepala pelatih timnas senior membuat PSSI dinilai lalai dalam menentukan pelatih timnas untuk timna senior. Ditambah lagi, isu pemutusan kontrak secara ghoib dan mengecewakan, membuat harapan Luis Milla untuk jadi pelatih timnas senior hanya sekedar mimpi saja. Hasilnya, Bima Sakti yang minim pengalaman ditunjuk sebagai pelatih senior. Dan terakhir, persiapan untuk AFF yang amburadul. Bila kita melihat faktor pertama dan kedua, maka yang faktor yang ketiga ini menjadi hasil dari kacaunya manajemen PSSI dalam mengurus liga dan juga timnas. Tak ada alasan untuk mengatakan bahwa timnas gagal karena persiapan, melainkan timnas gagal karena kalian. Ya, kalian adalah pengurus yang dinilai masyarakat cukup lamban. Hingga hasilnya, ini adalah ke-4 kalinya timnas Indonesia gagal di piala AFF sejak 1996.

Hasil tersebut cukuplah buruk karena dalam sepanjang kiprah Indonesia di AFF, paling tidak Indonesia selalu menembus babak final. Walau hanya menjadi runner up, paling tidak itulah prestasi kecil yang didapat skuad senior di ajang AFF ini. 

Pada kesempatan kali ini, saya akan mencoba untuk mengulas cerita bagaimana perjuangan Timnas Indonesia dalam meraih trofi AFF dimulai dari 2008 hingga 2018:

1. AFF SUZUKI CUP 2008 (Host : Indonesia-Thailand)

Selebrasi Budi "Phyton" Bersama Firman dan Arif
(Sumber Gambar : Goal.Com)
Kiprah timnas Indonesia pada tahun 2008, bisa dibilang lebih baik dari tahun sebelumnya. Timnas yang kala itu gugur di fase grup karena kalah produktivitas gol, setahun setelahnya mengalami peningkatan prestasi yang cukup baik. Diperkuat oleh pilar-pilar pemain muda seperti Bambang Pamungkas, Ellie Aiboy, Markus Horison, Firman Utina, Budi Sudarsono dan beberapa pemain bintang lainnya, pasukan garuda memulai cerita AFF 2008 dengan begitu baik. 

Petualangan timnas Indonesai di grup A, terbilang cukup bagus. Tergabung bersama Myanmar, Kamboja, dan Singapura, PSSI menargetkan Timnas Indonesia untuk juara pertama kali AFF Suzuki Cup 2008. Memulai pertandingan awal melawan Myanmar, Timnas Indonesia bermain sangat luar biasa. Dibawah racikan mantan pelatih Persija yaitu Benny Dollo, Timnas Indonesia berhasil mengalahkan Myanmar dengan skor 3-0. Memasuki pertandingan yang kedua, Pasukan Garuda mendapat ujian dari Kamboja. Kamboja yang tidak diunggulkan saat itu, harus takluk dari aksi heroik Charis Yulianto dkk di Stadion Gelora Bung Karno. Skor 5-0 menjadi hasil akhir yang membuat Indonesia mengunci satu tempat di semifinal. Pertandingan terakhir melawan Singapura hanyalah pertandingan hiburan, karena Singapura juga sudah mengunci satu tempat di semifinal. Praktis, pertandingan terakhir hanyalah pertandingan hiburan dimana skor akhir 2-0 untuk Singapura menutup fase grup A.

Di semifinal, Indonesia harus berhadapan dengan unggulan pertama yaitu Thailand. Thailand yang saat itu sudah mengoleksi 3 trofi, berambisi untuk menambah gelar AFF. Di sisi lain, Indonesia juga berjuang untuk mencetak sejarah sebagai piala pertama kali sejak 1996. Bertandang ke Rajamangala Stadium Bangkok, Timnas Indonesia harus menelan kekalahan tipis 1-0 pada leg pertama. Ambisi balas dendam dan semangat tak pernah padam, menjadi modal utama Charis Yulianto CS untuk membalik keadaan. Menjamu Thailand di GBK Jakarta, pasukan garuda membuka nafas peluang ke final usai Nova Arianto membuat gol penyeimbang agregat menjadi 1-1. Walau akhirnya, pasukan gajah putih harus memupus impian pasukan garuda ke final dimana Indonesia kalah 2-1 melawan Thailand yang membuat agregat menjadi 3-1 untuk Thailand.

Charis Yulianto yang Berusaha Menahan Peluang Thailand
(Sumber Gambar : Goal.com)
Di final, secara mengejutkan Vietnam berhasil mengalahkan Thailand dan menjadi juara untuk pertama kalinya sejak turnamen ini diselenggarakan pada tahun 1996. 

2. AFF SUZUKI CUP 2010 (Host : Indonesia-Myanmar)

Gonzales yang Resmi Menjadi WNI pada 2010 lewat Naturalisasi
(Sumber Gambar : Tribunnews.com)
Tahun 2010 atau bisa dibilang tahun pra sepak bola modern merupakan tahun dimana sepak bola Indonesia pada masa itu merupakan sepak bola terbaik sepanjang sejarah. Untuk pertama kalinya, PSSI melakukan naturalisasi atau pemindahan kewarganegaraan terhadap dua pemain asing, yaitu Christian Gonzales dan juga Irfan Bachdim. PSSI juga menunjuk Alfred Riedl sebagai kepala pelatih untuk Timnas Indonesia pada event AFF Suzuki Cup 2010.

Riedl yang sebelumnya pernah menangani Timnas Vietnam pada tahun 1998 dan Timnas U-23 Vietnam pada tahun 2003 dan 2005, mencoba peruntungan di AFF Suzuki Cup 2010 untuk membawa timnya juara setelah sebelumnya dirinya selalu membawa timnya ke final, namun berakhir dengan hasil runner up. Pada kesempatan tersebut, Alfred Rield mampu membuat Timnas Indonesia bisa dikatakan tampil sangat superior sepanjang pagelaran AFF Suzuki Cup 2010.  Dibawah asuhan Riedl pula, lahirlah beberapa bintang yang bisa dibilang menjadi idola bagi seluruh pecinta sepak bola termasuk saya sendiri.

Sebut saja Christian Gonzales yang saat itu umurnya sudah menginjak 34 tahun, diberikan kepercayaan untuk membela Timnas Indonesia melalui proses naturalisasi. Irfan Bachdim yang saat itu menjadi idola para wanita, mampu memberikan penampilan apik dan bisa membawa timnas ke final. Firman Utina yang saat itu didaulat menjadi kapten, mampu memberikan rasa kepemimpinan di lapangan sehingga kekompakan tim tetap terjaga. Dan, masih banyak lagi aksi aksi heroik para punggawa timnas saat itu.

Penampilan timnas kala itu juga, tidak terlalu mengecewakan. Bahkan hampir nyaris sempurna sebagai clean sheet victory. Mengemas 6 kali kemenangan dan 1 kali kekalahan, saya menilai timnas bermain cukup baik, bahkan hampir mendekati sempurna. Tetapi, dibalik itu semua terdapat 1 kekalahan yang mungkin menurut saya dan seluruh suporter sepak bola Indonesia itu terasa sangat menyakitkan. Final Bukit Jalil di leg pertama adalah saksi bagaimana Pasukan Garuda dibuat tidak berdaya bahkan harus kalah 3-0 oleh pasukan Harimau Malaya. Walau pada leg kedua Firman Utina Cs bisa membalikkan keadaan, tetapi hal tersebut tidak mengubah keadaan alias Indonesia harus kalah agregat dari Malaysia yaitu 4-2.

Menjadi Runner Up Untuk Kesekian Kalinya
(Source Gambar : republika.co.id )
Berbagai spekulasi muncul. Ada yang mengatakan karena laser yang mengarah ke Markus saat itu, lalu lemparan petasan ke tengah lapangan, pengadil yang berat sebelah, lapangan yang bermasalah dan macam sebagainya. Namun, isu yang cukup terhangat adalah terjadinya match fixing dimana pilar-pilar penting timnas dijadikan pion taruhan oleh salah satu pengurus PSSI saat itu. Dan, itu terjadi sebelum pertandingan dimulai. Hasilnya, banyak beberapa pemain timnas yang bermain saat itu seperti sengaja untuk mengalah demi bagi hasil sebuah taruhan yang sudah dijanjikan. Akibat hal tersebut, gejolak PSSI mulai membara dan meminta adanya revolusi PSSI untuk menyingkirkan apa itu politik, dan apa itu mafia.

3. AFF SUZUKI CUP 2012 (Host : Malaysia-Thailand)


Suara Rakyat Atas Dualisme PSSI
(Sumber Gambar : Bola.co.id)
Tahun 2012 bukanlah tahun yang cukup menyenangkan bagi persepakbolaan Indonesia. Banyaknya gejolak internal dan eksternal yang dimulai dari usainya AFF Suzuki Cup 2010 kala itu, membuat rakyat Indonesia khususnya pecinta sepak bola untuk meminta komponen kepengurusan PSSI diganti alias dirombak. Dimulai dari PSSI yang menjadi sarang politik, hingga kasus judi dan pengaturan skor menjadi topik terhangat dalam permasalahan tersebut. Nurdin Halid yang masih punya hubungan dengan partai beringin kala itu, diminta mundur karena filosofi sepak bola saat itu bukanlah tentang olahraga, melainkan sudah menjadi alat politik untuk kegiatan apapun itu.

Mundurnya Nurdin Halid pasca desakan tersebut, membuat dewan kehormatan PSSI menggelar rapat terkait Kongres Luar Biasa PSSI (KLB PSSI) dimana salah satu agendanya adalah pemilihan ketua umum PSSI. Akhirnya, KLB PSSI mulai diselenggarakan di Kota Solo/Surakarta dengan agenda utama adalah pemilihan ketua umum. Hasilnya adalah Djohar Arifin Husein ditunjuk sebagai ketum PSSI untuk periode 2011 hingga 2015.

Ternyata keputusan ini ditentang oleh salah satu tokoh, yaitu La Nyalla Matalliti. La Nyalla menilai terjadi suatu permasalahan yang tidak beres pada kepengurusan Djohar dan menyalahi aturan regulasi PSSI, sehingga dirinya membentuk PSSI tandingan yang bernama KPSI. Hasilnya, dualisme kepengurusan terjadi dimana Djohar Arifin melawan La Nyalla dan PSSI melawan KPSI. Hal ini menjadi masalah besar dimana imbasnya adalah, liga mana yang resmi dan diakui oleh FIFA. Jika liga itu merupakan illegal alias tidak diakui FIFA, maka pemain yang bermain pada liga tersebut dilarang tampil. Dan berita tersebut terdengar di induk sepakbola dunia yaitu FIFA.

Alhasil, FIFA hanya mengakui liga dibawah PSSI adalah liga resmi sehingga pemain yang bermain di liga PSSI yang boleh tampil. Tetapi masalahnya adalah, beberapa pemain yang bermain di IPL (liga resmi PSSI saat itu) sangat minim pengalaman yang membuat para pemain yang sering langganan dipanggil timnas kala itu, menjadi susah bahkan tidak dapat kesempatan untuk membela timnas karena liga illegal. Pemilihan pelatih untuk timnas Indonesia menjelang AFF juga menjadi masalah karena semua orang yang mengetahui pelatih timnas berkualitas, semuanya berada di kubu KPSI. Sehingga, pemain dan pelatih yang minim pengalaman internasional lah yang dipanggil untuk membela timnas sekaligus bermain di ajang AFF Suzuki Cup 2012.

Skuad Timnas Indonesia Di Tengah Kisruh Dualisme
(Sumber Gambar : football tribe)
Perjuangan timnas Indonesia di ajang AFF 2012 ini diantara dua ekspresi. Bisa mengecewakan, namun bisa juga membanggakan. Yang cukup membanggakan adalah dimana Timnas Indonesia berhasil mengalahkan Singapura untuk pertama kalinya yang notabenenya setiap head-to-head di piala AFF, Indonesia selalu kalah berhadapan Singapura. Gol indah Andik Vermansyah dari luar kotak pinalti menjadi satu-satunya gol yang membuat Indonesia mencatat 1 kali kemenangan atas Singapura berdasarkan head-to-head saat itu. Namun, yang kecewa bagi saya adalah bagaimana Timnas Indonesia berhasil ditahan imbang oleh Laos. Laos yang merupakan tim yang tidak diunggulkan, malah harus unggul lebih dahulu lewat eksekusi pinalti. Dan diakhir pertandingan, Timnas nyaris kalah andai gol Vendry Mofu tidak menjadi penyelamat Indonesia saat itu.

Akhir dari kiprah Pasukan Garuda ini adalah, mereka harus dipermalukan oleh Malaysia dengan skor 2-0. Memang skor 2-0 bukanlah masalah. Tetapi, yang cukup serius adalah kita sebelumnya sudah pernah dipermalukan Malaysia ditempat yang sama, dan cara menutup fase grup saat itu cukup mengecewakan karena kalah dari saudara serumpun. Otomatis, Indonesia harus tersingkir karena menghuni peringkat ketiga pada grup A. Siapa yang bertanggung jawab atas performa buruk timnas saat itu, menjadi pertanyaan besar atas kegagalan timnas dengan kasus dualisme saat itu.

3. AFF SUZUKI CUP 2014 (Host : Singapura-Vietnam)

Memasuki akhir tahun 2014, konflik sepak bola Indonesai mulai mereda. Pasca konflik dualisme antara KPSI dan PSSI, akhirnya Djohar Arifin dan La Nyalla Mataliti sepakat untuk duduk satu meja demi sepak bola Indonesia. Hal ini berdampak cukup bagus mengingat banyak kisruh yang sudah dibuat dalam dunia sepak bola Indonesia.

Rangkaian demi rangkaian dalam pembangunan sepak bola, mereka coba lakukan. Dimulai dari liga, pemain hingga yang paling adalah turnamen dua tahunan akhir tahun, AFF Suzuki Cup 2014. Kembalinya orang-orang penting dalam sepak bola Indonesia, membawa pengaruh posistif terutama dalam persiapan timnas. Kali ini, PSSI kembali menunjuk Alfred Riedl setelah kontraknya diputus oleh PSSI Djohar Arifin. Alasan ditunjuknya Riedl adalah Riedl dianggap sukses dalam membawa timnas berprestasi di level senior, sehingga PSSI ingin mengulang prestasi itu kembali di Piala AFF walau hanya sampai runner up. Target PSSI saat itu adalah juara. Dan jika juara, maka Riedl akan mendapat perpanjangan kontrak.

Memulai skuad kepelatihan yang masih sama, Alfred Riedl melakukan pemantauan beberapa pemain yang dia butuhkan untuk turnamen AFF Suzuki Cup 2014. Nama-nama seperti Firman Utina, Christian Gonzales, Zulkifli Syukur, M Ridwan, Kurnia Meiga kembali menghiasi line up Indonesia. Sisanya, adalah pemain baru seperti Evan Dimas, Sergio Van Dijk, I Made Wirawan, dll. Harapan saya waktu itu adalah timnas bisa juara mengingat pelatih yang sama dan amunisi baru yang bisa dibilang bermain cukup baik di klubnya masing-masing.

Alfred Riedl Ditunjuk Kembali Untuk Menangani Timnas
(Sumber Gambar : Elshinta.com)
Pertandingan pertama melawan tuan rumah Vietnam menjadi ujian pertama untuk Timnas Indonesia. Menghadapi tekanan supporter The Dragon, timnas tidak gentar menghadapi luar biasanya perlawanan Vietnam. Jual beli serangan dan berbalas gol menghiasi laga perdana grup B hingga skor 2-2 menutup laga perdana. Hasil yang cukup adil mengingat jalannya pertandingan cukup seimbang. Di pertandingan ke dua, Pasukan Garuda ditantang The Azkals (julukan Timnas Filipina) untuk menentukan tiket ke semifinal. Secara head-to-head, Indonesia pastinya jauh lebih diunggulkan mengingat beberapa pertemuan, timnas kita selalu menang menghadapi Filipina. Namun, bola itu bundar dan semua bisa terjadi di lapangan mengingat Filipina turun dengan formasi dan kekuatan yang baru.

Makna tersebut mungkin sangatlah cocok dengan kondisi apa yang terjadi saat itu. Blunder Firman Utina dan Kurnia Meiga yang berbuah gol, serta dua gol yang dimanfaatkan cukup baik menjadi bukti bahwa bola itu bundar. Apa saja yang sudah diprediksikan sebelumnya oleh para pengamat, belum tentu pasti prediksi mereka itu benar. Head-to-head juga bukanlah acuan. Sehingga, yang menjadi hasil akhir 4-0 itu adalah apa yang terjadi di lapangan saat itu. Otomatis, Filipina lolos ke semifinal dengan mengantongi 6 point sementara indonesia hanya memiliki 1 point. Praktis, pertandingan terakhir hanyalah pertandingan hiburan melawan Laos dimana Indonesia menang 5-1.
Pasca Kalah 4-0 Dari Filipina
(Sumber Gambar : Tribunnews.com )
Gagalnya Indonesia ke semifinal menjadi catatan buruk tersendiri untuk ketiga kalinya dimulai 2007, 2012 dan terakhir 2014.

5. AFF SUZUKI CUP 2016 (Host: Filipina-Myanmar)
Logo Terakhir AFF Suzuki 2016
(Sumber Gambar: pssi.org)
Pasca pembekuan PSSI oleh Menpora dan hukuman larangan aktifitas sepak bola oleh FIFA selama satu tahun, seakan sepak bola kita bak hilang di telan bumi. Adanya larangan menggelar kegiatan resmi seperti kompetisi liga hingga ikut kegiatan sepakbola internasional menjadi sebuah masalah besar, terutama untuk pemain, dan official dari semua level. Tidak hanya klub saja yang dirugikan, melainkan timnas juga dirugikan. Hal tersebut membuat peringkat Indonesia di level FIFA, terus merosot bahkan mendekati negara yang sepak bolanya berkembang seperti Brunei, Laos, Kamboja, Timor Leste, dll.

Impact dari pembekuan pemain ini juga terasa pada penghasilan mereka. Mereka yang seharusnya dapat uang untuk makan anak istri, justru harus banting setir dimulai dari buka usaha, hingga banting stir bermain di liga tarkam. Hal ini menjadi suatu polemik tersendiri untuk sepak bola Indonesia, seberapa burukkah kepengurusan PSSI saat itu?

Banyak yang mengatakan bahwa dalam kepengurusan PSSI era La Nyalla, masih ada indikasi campur tangan politik yang sebenarnya itu sudah dilarang dalam regulasi FIFA. Hal ini bisa dilihat dari laga persahabatan yang dimana pernah mencantumkan "peduli pemilu 2014" yang saya sendiri lupa pertandingan apa saat itu. Lalu masih adanya indikasi pengaturan skor sehingga tragedi sepak bola gajah terjadi antara PSS melawan PSIS. Lalu, ada sebuah insiden dimana salah satu pemain meninggal dunia akibat terjangan keras pada salah satu pemain pada liga amatir yang membuat berita ini heboh tidak hanya di media lokal melainkan menjalar ke Internasiona. Dan, masih banyak lagi masalah PSSI yang akhirnya membuat Pak Imam Nahrawi meminta PSSI dibekukan hingga semua masalah tersebut selesai.

Setahun setelah dibekukan Menpora, Indonesia akhirnya bisa bernapas lega. Menpora yang sudah  bertemu dengan beberapa komite petinggi PSSI (kalau istilah bahasa adalah Dewan PSSI), APPI dan seluruh elemen organisasi sepak bola lainnya, komit untuk membenahi sepak bola Indonesia dimulai dari nol. Hal inipun terdengar oleh FIFA, sehingga FIFA mencabut status hukuman "One Year Baned" untuk Indonesia sehingga Indonesia bisa mengikuti kompetisi Internasional kembali. Pasca bebasnya sanksi tersebut, komite ekskutif PSSI langsung mengadakan kongres untuk menentukan siapa ketua PSSI yang baru. Hasilnya, Edy Rahmayadi ditunjuk sebagai ketua umum PSSI periode 2016-2020 menggantikan La Nyalla Mataliti.

Pidato Edy Untuk Program Sepak Bola Ke Depan
(Sumber Gambar : tirto.id)
Usai penunjukkan ketua umum, PSSI langsung mengadakan rapat kongres untuk menentukan pelatih timnas senior mengingat waktu yang semakin sempit serta butuhnya kehadiran Indonesia dalam ajang event 2 tahunan yaitu AFF Suzuki Cup 2016. PSSI kembali menunjuk Alfred Riedl sebagai pelatih sementara untuk mengisi peran pelatih senior sementara setelah pembekuan sepak bola Indonesia yang cukup lama. Hal ini menjadi cukup berat karena Riedl harus segera membentuk kerangka timnas secepat mungkin. Selain itu, adanya liga pengganti sementara membuat klub hanya bisa menginjinkan maksimal 2 pemain untuk berlaga di AFF Suzuki Cup 2016. Otomatis, dengan persiapan mepet dan pemilihan pemain yang terbatas membuat Riedl harus mencari akal agar kerangka timnas terbaik bisa terbentuk. Hasilnya, 22 pemain yang ditunjuk adalah wajah-wajah baru yang menghiasi timnas senior kala itu.

Perjuangan perdana timnas usai pembekuan dimulai ketika Indonesia tergabung ke dalam grup A bersama juara favorit yaitu Thailand dan Singapura, serta si kuda hitam yaitu Filipina. Target yang dicanangkan hanya lolos grup sehingga, itu bukanlah suatu perkara yang berat. Namun dalam situasinya, ini bisa menjadi rumit mengingat sepak bola mereka sudah jauh di atas Indonesia selama Indonesia dihukum FIFA. Tapi, itu bukanlah suatu alasan buat timnas mundur secepat mungkin karena mereka datang dengan tekad yang kuat.

Ujian pertama Indonesia dimulai kala berhadapan dengan Thailand. Thailand yang diprediksi menang mudah, justru harus bersusah payah mengalahkan Indonesia. Sempat unggul 2 gol, Timnas Indonesia berhasil menyamakan kedudukan yang membuat Thailand harus berputar otak untuk mengalahkan Indonesia. Hingga akhirnya, skor akhir 4-2 menjadi penutup dimana Thailand berhasil menang melawan Indonesia. Pasukan Garuda kembali diuji saat menghadapi tuan rumah, yaitu Filipina. Filipina yang menjadi kuda hitam, tidak bisa dianggap remeh mengingat pertemuan terakhir mereka yaitu di AFF 2014 dimana Indonesia harus dibantai 4 gol tanpa balas. Hal ini menjadi motivasi agar kejadian tersebut tidak terulan lagi.

Pertandingan pertama dimulai. Indonesia langsung mengambil inisiatif menyerang agar bisa mencetak gol duluan. Gol dari Fachrudin menjadi pembuka kala itu yang membuat Indonesia unggul sementara 1-0 sekaligus mengamankan satu langkah ke semifinal. Namun, skor tersebut tidak bertahan lama setelah Bahadoran mencetak gol untuk Filipina sekaligus membalas gol tersebut sehingga skor imbang. Timnas kembali membuka asa 3 point setelah Boaz Sollosa mencetak gol kembali, walau akhirnya freekick indahnya Phil Younghusband berbuah gol penyeimbang. Skor akhir 2-2 menjadi penutup pada laga itu. Kans Indonesia ke semifinal cukup berat mengingat semua point tim sama. Indonesia butuh kemenangan untuk bisa lolos ke semifinal. Dan Singapura lah ujian terakhir yang di dapat Indonesia untuk bisa lolos ke semifinal.

Peluang timnas lolos ke semifinal hampir sirna saat gol cepat Singapura membuka skor pertandingan saat itu. Perjuangan nothing to lose yang diberikan Indonesia akhirnya berbuah 2 gol indah dari Andik Vermansyah dan Lilipaly yang akhirnya membuat Indonesia menang dan lolos ke semifinal. Di semifinal, Indonesia harus bertemu Vietnam yang dikenal dengan kekuatannya yang cukup angker. Tetapi, timnas Indonesia "never give up" untuk bisa juara walau target lolos semifinal sudah terpenuhi.
Selebrasi Lilipaly Usai Cetak Gol Penentu Kemenangan
(Sumber Gambar : bolaindo.com)
Leg pertama digelar di Stadion Pakansari, Bogor dan itu menjadi keuntungan tersendiri untuk Indonesia. Hasilnya, timnas menang 2-1 pada leg pertama sekaligus menjadi modal penting. Menjalani leg kedua, tekanan Timnas justru berbalik kala mereka bertandang ke Vietnam. Vietnam butuh 2 gol agar bisa ke final, sementara Indonesia hanya butuh seri. Atmosfir stadium My  Dinh National Stadium terasa sangat sangar sehingga membuat performa permainan timnas tidak seperti leg pertama. Peluang demi peluang Vietnam terus dilancarkan. Tetapi performa apik Kurnia Mega saat itu patut diacungi jempol. Indonesia kembali memperlebar agregat menjadi 3-1 setelah kesalahan dilakukan pemain lini belakang Vietnam sehingga bisa dimanfaatkan Lilipaly untuk mencetak gol. Keuntungan Indonesia bertambah, kala kiper Vietnam dikartu merah. Dikarenakan stok pemain pengganti sudah habis, maka Vietnam harus bermain sepuluh orang. Namun, perjuangan Vietnam nilai lebih tersendiri di masa-masa akhir. 2 gol di menit-menit akhir menjadi petaka untuk Pasukan Garuda sehingga pertandingan berlanjut ke ekstra time. Indonesia yang dikhawatirkan staminanya menurun, justru menyamakan kedudukan menjadi 2-2 sehingga aggregat menjadi 4-3 untuk Indonesia. Serangan tujuh hari tujuh malam yang dilancarkan Vietnam untuk mengejar gol sekaligus melaju ke final, harus pupus karena kalah aggregat. Indonesia akhirnya kembali bertemu Thailand setelah fase grup, dimana Indonesia dikalahkan Thailand dengan skor 4-2 pada pertandingan pembuka.
Perayaan Gol Pemain Timnas Usai Lilipaly Mencetak Gol
(Sumber Gambar : Kompas Bola)
Di final, Indonesia berjuang mati-matian demi berebut titel juara. Bertindak sebagai tuan rumah pertama, Timnas berhasil menang melawan Thailand dengan skor 2-1 lewat gol Riski Pora dan Hansamu Yama. Namun, harapan Indonesia untuk mendapat trophy AFF harus ditunda, karena Thailand berhasil mengalahkan Indonesia dengan skor 2-0 di Rajamangala Stadium. Walau kalah, apresiasi sebesar-besarnya tetap diberikan kepada seluruh pemain di lapangan yang sudah bekerja keras untuk memberikan yang terbaik demi negara.

6. AFF Suzuki Cup 2018 (New Format Competion)
New Logo, New Format
(Sumber Gambar : Fox Sport Asia)
Perjuangan apik para junior Timnas Indonesia di kejuaraan Interansional menjadi sebuah catatan terbaik di tahun 2018. Dimulai dari U-16, U-19 hingga U-23. Semuanya menorehkan prestasi seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya. Tak lengkap rasanya apabila senior justru harus tertunduk malu pada juniornya karena tidak bisa menyamai prestasi mereka.

Hal ini pasti menjadi motivasi tersendiri untuk bisa ikut ke dalam daftar tim terbaik ditahun 2018 versi penikmat bola Indonesia. Tetapi, pertanyaannya adalah siapa yang mengisi kursi pelatih timnas senior untuk AFF? Sementara, Luis Milla hanya dikontrak di level U-23 saja, bukan senior. Terlebih lagi, kontrak yang diberikan hanya setahun, bukan jangka panjang. Ditambah lagi, liga yang masih berjalan menjadi masalah dimana semua negara sudah menyelesaikan semua kompetisi termasuk turnamen, tetapi Indonesia belum.  Ini menjadi polemik tersendiri bagaimana PSSI belum siap untuk ajang besar 2 tahunan di kawasan Asia Tenggara, sementara mereka berhasil menyelenggarakan semua event olahraga di Indonesia dimulai dari AFF U-16, AFC U-19 hingga Asian Games 2018. Selain itu, mereka sudah komit untuk membenahi sepak bola Indonesia ke arah yang lebih baik. Tetapi itu belum.

Kehadiran Luis Milla di Indonesia sebenarnya dianggap cukup membawa pengaruh besar terutama dalam gaya permainan sepak bola Indonesia. Milla semasa karirnya sebagai pelatih banyak membuat pemain yang pernah di asuhnya menjadi seorang bintang. Sebut saja David De Gea, Juan Mata, dan Ander Herrera yang pernah merasakan tangan racikan kepelatihan Luis Milla. Pernah membawa Spanyol U-21 menjuarai Euro U-21 juga menjadi bukti bahwa mantan pemain Real Madrid dan Barcelona ini mempunyai nilai lebih. Gaya permainan tiki taka ala Spanyol juga pernah diterapkan di Timnas di Indonesia sehingga banyak pelatih yang mencoba untuk mempelajari bagaimana cara menerapkan taktik tersebut. Dimulai Indra Sjafri, Fakhri Husaini dan Bima Sakti yang belajar mengenai tiki taka. Hal tersebut berimbas baik melihat banyak para penikmat sepak bola Indonesia menilai gaya tika taka ala Luis Milla sangat menarik. Sehingga, banyak masyarakat yang meminta Milla dipertahankan.

Tetapi, selepas Asian Games usai, Milla justru tidak dipertahankan dan malah menunjuk Bima Sakti sebagai penggantinya. Hal ini menjadi cukup aneh melihat Bima Sakti minim pengalaman. Banyak yang mengatakan bahwa tidak diperpanjangnya Milla karena adanya indikasi orang dalam yang sengaja menggagalkan perpanjangan Luis Milla. Dan ini sudah pernah dibahas dalam acara Mata Najwa. Terlepas dari apapun alasannya, Bima Sakti menerima tantangan sekaligus resiko tersebut dan melakukan apa yang pernah Luis Milla lakukan.

Luis Milla dan Bima Sakti Saat Asian Games 2018
(Sumber Gambar: NYSN Media)
Menjelang AFF Suzuki 2018 digelar, Bima Sakti memanggil beberapa pemain yang mempunyai filosofi bermain sesuai gaya Luis Milla. 23 pemain yang Bima rancang adalah pilihan terbaik yang menurut Bima sudah mempunyai filosofi bermain seperti Luis Milla. Kebanyakan dari mereka adalah alumni dari Asian Games dan orang-orang yang sudah pernah diasuh Luis Milla. Hal ini menjadi sesuatu unik karena Bima merasa bahwa sebagian dari mereka sudah memahami gaya main tiki taka di lapangan seperti apa.

Perjalanan timnas di AFF ini tergabung ke dalam grup B. Indonesia akan berhadapan dengan Singapura, Timor Leste, Thailand dan Filipina. Perjuangan timnas dimulai saat berhadapan dengan Singapura di Stadion National Singapura. Dalam melakoni pertandingan pertama, timnas Indonesia harus kalah 1-0 oleh Singapura melalui gol cantik Hariss Harun dari luar kotak pinalti. Hal ini membuat Indonesia sementara berada di peringkat ke 4. Indonesia wajib menang seluruh pertandingan jika memang ingin tetap lolos ke babak semifinal untuk amannya. Lawan berikut yang dihadapi oleh Pasukan Garuda adalah Timor Leste. Timor Leste yang memang tidak diperhatikan performanya di grup B ini, membuat sebuah kejutan yang menyakitkan. Dalam beberapa pertemuan, Timor Leste hampir tidak pernah menyarangkan gol ke gawang Indonesia. Dan ini terjadi pada babak ke dua dimana pemain Timor Leste, Rufino Gama membuat gol ciamik ke gawang Indonesia untuk pertama kalinya. Walau harus kalah 3-1 dari Indonesia, Timor Leste berhasil mencatatkan 1 gol ke gawang Timnas Indonesia.

Pada pertandingan ketiga, Indonesia harus menghadapi Raja Asia yaitu Thailand. Kans Indonesia untuk lolos masih terbuka. Hal ini dengan syarat Timor Leste menang melawan Filipina, dan Thailand kalah melawan Indonesia. Indonesia mulai membuka peluang ke semifinal melalui sepakan keras Zulfiandi. Namun, Thailand mampu membalikkan dengan menyarangkan bola ke gawang Awan Setho sebanyak 4 gol sehingga Thailand diunggulkan ke semifinal. Indonesia hanya bisa menambah satu gol melalui sundulan Fachrudin. Hal ini membuat peluang Indonesia ke semifinal semakin tipis. Harapan satu-satunya adalah Filipina harus kalah oleh Thailand dan Timor Leste juga harus menang dari Singapura.

Harapan Kecil Setelah Kalah Oleh Thailand
(Sumber Gambar : Detik.Com)
Tetapi, apa yang mereka inginkan bagai "Pungguk merindukan Bulan". Thailand yang jelas sudah lolos otomatis, tidak ada niatan untuk membantu Indonesia ke fase grup. Malahan, Filipina yang akhirnya bisa menemani Thailand ke babak semifinal setelah menahan imbang tim gajah putih. Otomatis, Indonesia gagal ke semifinal untuk ke 4 kalinya sepanjang sejarah. Prestasi yang sangat buruk. Menghadapi Filipina pun, timnas hanya bisa bermain seri. Namun, hasil seri tersebut tidak bisa merubah segalanya. Indonesia terpaksa menjadi penonton layar kaca untuk ke 4 kalinya.
GAGAL !!!
(Sumber Gambar : IDN times)
Seperti itulah bagaimana catatan perjalanan lika-liku timnas senior selama di AFF 2008 sampai 2018. Kita bisa melihat bagaimana perkembangan sepak bola kita di level senior mulai dari ganti ketua, pelatih, pemain hingga tak adanya prestasi yang menjanjikan. Hal ini menjadi bahan evaluasi besar-besaran untuk PSSI mengingat PR PSSI bukan hanya dari level timnas saja. Rangkap jabatan, match fixing, telatnya liga adalah isu yang sedang hangat yang dimana ini mempengaruhi bagaimana timnas senior kita bisa berprestasi di tingkat Internasional. Bukan tidak mungkin apabila negara seperti Kamboja, Laos, Brunei, Myanmar, dan Timor Leste sekalipun bisa melangkahi Indonesia lebih jauh. Bahkan, ketika kita meraih runner up terbanyak, salah satu diantara mereka malah sudah meraih trofi AFF pertama kali. Pahitnya lagi adalah negara seperti Malaysia, Thailand, Singapura, dan Filipina sudah merasakan euforia bermain di Piala Dunia atau merasakan juara Piala Asia. Sementara kita, masih coba berprestasi di tingkat ASEAN.

APAKAH MAU SEPAKBOLA KITA DI BANNED LAGI UNTUK KE DUA KALINYA ?

APAKAH MAU SEPAKBOLA KITA MENGALAMI KEMUNDURAN LUAR BIASA ?

ATAU, OLAHRAGA LAIN BERPRESTASI DI TINGKAT DUNIA, TETAPI KITA ?

MALAH DIAM TAK BERGERAK ?


CUKUP PSSI LAH YANG MENJAWAB


BISA???

ATAU 

TIDAK???

0 comments:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger