Friday, February 26, 2016

LEGENDA LEGENDA DARI TANAH BETAWI ( PART 2 )

Betawi Legend
Hallo semua, I'm come back again. Wakakakaka. Oke, mungkin sebelumnya ane udah pernah share kali ya tentang Legenda Betawi. Tapi itu baru sebagian bro. Nah, klo yang ini, ane cuman mau lanjutin tentang para legenda yang bisa ane bilang sih, ini loh jagoan jagoan yang mengharumkan betawi. Oke, daripada basa basi gak penting dan gak jelas, langsung aja. Capcus gan....

Ismail Marzuki
Ismail Marzuki ( Source : Image Google )
Bicara soal Ismail Marzuki, pasti yang terlintas dipikiran kita hanya satu. Kalau bukan pahlawan seniman pasti nama sebuah museum yaitu Taman Ismail Marzuki. Yap, tidak salah dan benar semua. Dialah seorang seniman asal Betawi yang dikenal sebagai legenda komponis dan musik Indonesia. Ya, Pria yang sering dipanggil Ma’ing ini lahir 11 Mei 1914 di Kwitang, Batavia merupakan keluarga Betawi yang sangat Intelek. Artinya, keluarga Ma’ing ini serba berkecukupan. Bicara soal musik, Ma’ing sudah menyukai musik sejak kecil. Hal ini dikarenakan ayahnya juga merupakan seorang penikmat musik dan pencipta syair syair bernafaskan religi Islam. Itulah mengapa ada pepatah “ Buah jatuh gak akan jauh dari pohonnya “. Hal itulah yang sangat pantas disematkan untuk diri sang legenda ini.

Ma’ing memulai pendidikan di Kristen HIS Idenburg, Menteng. Namun, Ma’ing tidak lama dikarenakan sang ayah sendiri menginginkan anaknya tidak ingin terpengaruh budaya Belanda. Akhirnya, Ma’ing dipindahkan ke Madrasah Unwanul Falah di Kwitang. Ma’ing sendiri selalu mendapatkan hadiah apabila dia berhasil naik kelas dari ayahnya. Hadiahnya itupun adalah barang kesukaan Ma’ing yaitu Harmonika, mandolin dan gitar. Setelah lulus Madrasah, Ma’ing memutuskan untuk melanjutkan studinya di MULO. Disanalah Ma’ing yang beranjak muda ini membentuk sebuah grup musik untuk mempoles seninya terhadap seni musik. Tamat dari sekolah Belanda tersebut, Ma’ing memutuskan untuk bekerja di salah satu perusahaan besar bernama Socony Service Station sebagai kasir. Namun, pekerjaan Ma’ing sebagai kasir tidaklah lama. Dia pun beralih profesi menjadi seorang penjual piringan hitam yang dimana gajinya sangat berbeda jauh ketika dia bekerja sebelumnya. Tetapi, berkat profesinya menjual piringan hitam, Ma’ing jadi mengenal artis artis musik seperti Zahiridin, Yahya, dan Kartusuro.

Tahun 1936, Ma’ing muda mulai meningkatkan kegemarannya pada music dengan memasuki sebuah orkes bernama Lief Java dimana dirinya di posisi pemain gitar, saksofon dan harmonium pompa. Nama Lief Java sendiri menjadi melambung kala mereka diberi ijin kesempatan untuk tampil di NIROM ( Stasiun Radio Bentukan Belanda ). Semakin lama kontribusi Ma’ing di Lief Java ini membuat Ma’ing memutuskan untuk mencoba membuat lagu lagu dengan menjauhkan unsur unsur nada berbau barat. Akhirnya Ma’ing berhasil membuat salah satu lagunya yaitu  ALI BABA RUMBA . Bukan cuman itu, grup musik Ma’ing pun juga punya lagu pembukaan sendiri. Namun, lagu pembukaan tersebut dijadikan pembukaan untuk Radio NIROM. Mereka yang seakan marah dan tidak menerima lagu mereka dijadikan pembukaan untuk radio tersebut memprotes karena tidak mendapat ijin terlebih dahulu. Namun, apa yang terjadi? Perusahaan radio tersebut tidak menggubrisnya dan tetap menggunakannya sebagai lagu pembukaan mereka.

Tahun 1936 – 1937, Ma’ing mulai mencoba mempelajari sesuatu tentang lagu tradisional dan barat. Berkat dia mempelajari tentang ciri khas lagu lagu tersebut, Ma’ing mencoba untuk menciptakan  beberapa karyanya sebut saja yang paling terkenal yaitu lagu TERANG BULAN. Tahun 1940, NIROM mulai membatasi lagu lagu bernada daerah maupun Indonesia dan mengganti dengan lagu asal negeri mereka. Hal inilah yang membuat masyarakat Betawi akhirnya membangun sebuah stasiun radio milik anak Betawi namanya VORO. Di sana Ma’ing mulai mengisi berbagai acara terutama saat acara musik malam minggu bersama Annie Landouw dan dibantu temannya yaitu Memet. Ma’ing juga pernah membentuk organisasi PRK ( Perikatan Radio Ketimuran ). Disinilah, Ma’ing dan orkesnya diminta untuk membawa lagu lagu barat oleh Belanda saat itu. Dari sinilah, gaya hidup seni Ma’ing mulai terbentuk dimana saat dia pernah membawa lagu barat, dari sini juga Ma’ing bereksperimen untuk menggubah lagu lagu barat menjadi lagu yang mempunyai unsur Bahasa Indonesia, baik dari kata katanya, maupun isinya berhasil dia gubah. Itulah mengapa Ma’ing bisa dibilang sebagai Bapak Kesenian Musik Betawi dan Indonesia.

Tahun 1942, NIROM memutuskan bubar karena pada saat itu, Belanda harus takluk dari Jepang. NIROM pun berganti nama menjadi Hoso Kanri Kyoko dan orkes Ma’ing pun berubah nama pula menjadi Kireira Jawa. Akhirnya, Ma’ing pun mecoba untuk membuat lagu lagu perjuangan dimana salah satunya yang sampai sekarang kita masih ingat yaitu RAYUAN PULAU KELAPA yang pernah dijadikan sebagai penutup siaran TVRI pada masa orde baru. Banyak lagu lagu perjuangan yang diciptakan, membuat pria berdarah Betawi ini selalu diincar dan bahkan diancam. Namun, namanya nasionalisme tidak akan runtuh. Ma’ing selalu berani membuat karyanya secara bebas. Bahkan, setelah Perang Dunia ke 2 selesai, Ma’ing masih terus membuat lagu. Dia pernah coba untuk menggabungkan sisi nasionalisme dan romantisme kedalam sebuah lagu seperti lagu GUGUR BUNGA dan SEPASANG BOLA MATA. Sehingga tak ayal Ma’ing bisa dijuluki Legenda Maestro Musik Indonesia karena lagunya yang super sekali.

Ismail Marzuki pun harus berhadapan ke Yang Maha Kuasa pada tanggal 25 Mei 1958 di usia 44  tahun akibat Kanker yang dideritanya dan dimakamkan di Kampung Bali, Tanah Abang. Ada  sebuah istilah berbunyi “ Manusia boleh jasadnya tak ada. Tapi, suatu karya manusia harus selalu abadi untuk selamanya “. Itulah hal yang pantas disematkan oleh Ma’ing, mengingat 250 karyanya masih dibilang popular dan tak bisa dilupakan. Bahkan beberapa lagunya pun bisa dibilang sangat melebihi kata popular karena di tiap sekolah sekolah, mereka masih mencoba untuk menyanyikan lagu ciptaannya ini. Itulah mengapa tahun 2004, Ismail Marzuki dianugerahi Pahlawan Nasional oleh Indonesia, dan namanya diabadikan sebagai suatu museum yang bernama Taman Ismail Marzuki.

Fauzi Bowo

Fauzi Bowo ( Source : Image Google )
Apa yang ada dipikiran kalian soal tokoh Betawi ini? Kumis? Gubernur? atau Foke? Ya, itu semua tepat dipikiran kalian. Memiliki khas yaitu kumis, dan pernah memimpin kota Jakarta selama lima tahun. Pria yang berasal dari pasangan Adiputro Bowo dan Nuraini ini merupakan keturunan berdarah Jawa-Betawi. Lahir di Jakarta, 10 April 1948, Fauzi Bowo atau yang sering dipanggil Foke ini, pernah menjabat sebagai Dubes RI untuk Rep Federal Jerman di tahun 2013.

Foke memulai pendidikan di St. Bellarminus dan mengakhiri karir pendidikannya di Kolese Kanisius Jakarta. Foke kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Braunshweig, Jerman dengan mengambil studi arsitektur bidang Perencanaan Kota dan Wilayah. Pria yang sangat gemar membaca dan fotografi ini dulunya sangat aktif berorganisasi sejak menjadi mahasiswa. Hal ini dibuktikan bahwa, dulunya Foke pernah menjadi aktifis KAMI ( Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia ) di Fakultas Teknik UI. Dan juga, pernah aktif juga sebagai anggota Dewan Pertimbangan Pemuda KNPI Pusat tahun 1982 – 1984. Hal inilah yang menurut saya Foke punya pengalaman yang setidaknya pantas untuk memimpin Jakarta saat eranya dulu.

Foke sendiri memulai karirnya ini sebagai seorang dosen di Fakultas Teknik UI. Foke pun juga pernah menjadi seorang pegawai negeri sejak 1977 dan menjabat sebagai Kepala Biro Protokol & Hubungan Internasional dan Kepala Dinas Pariwisata DKI Jakarta. Bukan cuman itu saja, sebagai seorang birokrat, pria yang dikenal dengan kumis tebalnya ini pernah menempuh pendidikan di Sepadya ( 1987 ), Sespanas ( 1989 ), dan Lemhanmas KSA VIII ( 2000 ). Berkat beberapa karirnya ini dan pengalaman yang luar biasa, Foke pun pernah di daulat sebagai cagub dari beberapa partai lain. Namun dia lebih memilih pada saat itu menjadi pendamping Sutiyoso sebagai wakil gubernur saat itu pada tahun 2002. Bahkan, saat dalam seleksi penjaringan cagub, dalam partai PPP, Foke menang dan mengungguli suara dari Agum Gumelar ( 5 suara ), dan Mahfud Djailani ( 2 Suara ). Tapi, dalam partai PDIP, Foke justru menempati urutan terakhir dengan hanya mengumpulkan 80 suara, sementara yang tertinggi saat itu adalah Sarwono Kusumaatmadja. Tapi, karena kasus banjir yang melanda pada saat itu, dan pada saat itu juga Foke dan Sutiyoso dianggap bertanggung jawab, hal inilah yang membuat Foke pun sudah digadang gadang untuk menjadi the next of Jakarta Governor dalam periode selanjutnya. LSI pun mencatat, dimana saat itu 700 orang disurvei untuk menyatakan pendapatnya mengenai siapa pemimpin Jakarta selanjutnya, dan salah satunya adalah Fauzi Bowo.

Berkat inilah, Foke pun mencalonkan diri menjadi gubernur dan diusung oleh Partai Bintang Reformasi. Berkat aksinya ini, dukungan dari partai lain pun banyak untuk mendukung Foke menjadi the next of Jakarta Governor menggantikan era Sutiyoso. Kata kata khasnya pada masa kampanye saat itu yaitu “ Untuk membangun Jakarta, serahkan pada ahlinya & kepada yang berpengalaman. Jika tidak, kehancuran tinggal menunggu waktu.”. Hal inilah yang dimana klimaksnya Foke menang dari Prijanto dengan unggul suara 57,87% dan menggantikan Sutiyoso sebagai Gubernur DKI Jakarta periode 2007 – 2012.

Selama masa kepemimpinannya, banyak hal yang dilakukan Foke. Diantaranya mengadakan car free day tiap hari minggu, membangun kanal banjir timur, mengatasi diare selama 3 tahun dan masih banyak segudang prestasi yang pernah dia lakukan untuk Jakarta. Foke kembali mencalonkan diri kembali menjadi gubernur di tahun 2012 bersama Nachrowi Ramli yang diusung Demokrat, PAN, Hanura dan PKB untuk putaran pertama. Karena pada saat itu hasil untuk menjadi gubernur harus 50% ke atas, maka diputaran ke dua, dukungan untuk Foke bertambah dari PKB dan Golkar. Namun, dukungan yang banyak pun, justru tidak membuat Foke menang. Malah, Joko Widodo dan Basuki Tjahja Purnama yang berhasil menjabat menjadi gubernur dan wakil gubernur menggantikan dirinya ditahun 2012. Kini, Foke berfokus pada pembentukan lembaga yang membahas masalah urban dan perkotaan.

Deddy Mizwar

Deddy Mizwar ( Source : Image Google )
Siapa yang disini masih ingat film Para Pencari Tuhan? Atau mungkin pernah nonton film Lorong Waktu? Kalau pernah nonton, pasti nama actor yang satu ini tidaklah asing di telinga kalian. Yap, betul sekali. Dialah Deddy Mizwar, sang aktor dan sutradara religious dan cerdas dalam membuat film

Pria yang mulai dikenal dengan karakter Nagabonar ini lahir di Jakarta, 5 Maret 1955 dari pasangan H.Adrian Andres dan Sun’ah. Deddy sendiri sudah sangat mengenal dunia seni dari kecil. Apalagi, ibunya dulu merupakan pemimpin salah satu sanggar seni Betawi. Pantaslah bahwa darah seni dari ibunya mengalir dalam pria yang dikenal sangat luar biasa dalam berakting. Apalagi, setelah selesai sekolah, Deddy pernah bekerja di Dinas Kesehatan DKI. Namun, karena hobby dalam dunia seni sangat tinggi, maka Deddy memutuskan untuk beralih profesi menjadi seorang seniman. Ketekunan dalam dunia seni ini pula lah yang mengantarkan Deddy menjadi seorang seniman luar biasa. Ini terbukti saat dirinya bergabung ke dalam Teater Remaja Jakarta dan aktif tahun 1973. Disanalah, beliau mempoles kegiatan seni perannya menjadi luar biasa.

Deddy Mizwar memulai karir akting pertama kali saat memerankan sebuah film berjudul Cinta Abadi ( 1976 ) yang disutradai oleh Wahyu Sihombing. Tak tanggung tanggung, Deddy langsung mendapat peran utama dalam film tersebut. Hal inilah juga, yang mengantarkan Pria yang kini menjadi Wakil Gubernur Jawa Barat ini mendapat beberapa penghargaan diantaranya Aktor terbaik FFI ( 1986 dan 1987 ) dan Pemeran pembantu terbaik ( 1986 dan 1987 ). Kecintaan pada dunia seni ini pun juga dikembangkan dengan mendirikan rumah produksi film yang bernama PT Demi Gisela Citra Sinema tahun 1997. Ditambah lagi, Deddy Mizwar sendiri mampu membuat film yang bernafaskan religi menjadi film yang mampu dinikmati oleh seluruh masyarakat banyak. Sebut saja Para Pencari Tuhan yang sudah memasuki jilid ke 9 dan Sinetron Lorong Waktu yang pernah dibintangi oleh Qubil AJ.

Setelah kontribusinya dalam dunia perfilman dibilang sangat baik, ditahun 2012, aktor senior dan sutradara Indonesia terbaik ini memutuskan untuk terjun ke dunia politik dan mencalonkan diri menjadi Wakil Gubernur Jawa Barat. Hasilnya, di tahun 2013 inilah Deddy menjadi pendamping Ahmad Heriyawan ( Aher ) untuk memimpin Jawa Barat untuk 5 tahun ke depan.

Source :

Ya, itu tadi adalah beberapa tokoh Betawi yang perannya sangat besar dalam mengharumkan nama Betawi. Mungkin ane kudu kasih tau satu hal. Ketika mereka dulu masih kecil, mereka mungkin bermimpi untuk menjadi orang yang berguna bagi masyarakat. Kini, mereka memimpikan kita siapa yang nantinya bisa meneruskan mereka mereka ini. Bukan cuman yang masih hidup, tapi yang sudah tiada pun selalu menitipkan suatu doa di alam sana agar kita yang muda muda jangan coba coba untuk merusak mimpi mereka. Malah, sudah saatnya kita menjadi the next generationnya mereka untuk menjadi pemuda yang bisa membanggakan Nusa dan Bangsa Indonesia ini. Kalau orang bijak bilang, " Kalau bukan kita, siapa lagi? ". Benarkan. 

Baca juga artikel lain gan :
Kebaya, Aset  Tanah Betawi Yang Bisa Mendunia ( Coming Soon )

Dan sekali lagi, ane minta mohon sangat untuk komennya, kritik dan saran tapi harus gunakan Bahasa Indonesia yang baik karena kita " Warga Indonesia Yang Baik!!! ". Dan untuk teman teman semua yang mau copas artikel ane, mohon ya untuk cantumkan sumbernya, karena kita harus belajar menghargai karya orang lain. Oke.

Bila ada ayam di kandang, boleh kita memberi nasi.
Bila ane ada waktu yang panjang, boleh ane ngepost lagi.

Terima Kasih dan Sampai ketemua lagi semua :D

0 comments:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger